Desember 16, 2013

Desa Mahaniwa

Terletak di sebelah utara kecamatan Pinupahar dengan luas wilayah 22,1 km² dan untuk menuju Kecamatan Pinupahar berjarak 31km. Desa Mahaniwa berbatasan langsung dengan desa lainnya yakni : Sebelah utara desa Waikanabu; Sebelah Timur desa Katikuwai; Sebelah Selatan desa Ramuk dan Sebelah Barat adalah desa Praingkareha.

Desa Mahaniwa diambil dari nama leluhur suku Ana Ma Aya bernama nenek Niwa atau dikenal dengan Apu Niwa yang berparas cantik dan cerdas yang dikenal hingga saat ini. Desa Mahaniwa berada pada ketinggian 735 mdpl. 

Desa Mahaniwa dibentuk berdasarkan surat keputusan Gubernur Nusa Tenggara Timur No. Pem 72/Thn/2005 tanggal 17 September 2006 dan Instruksi Gubernur Nusa Tenggara Timur No. Und 73/th 2005/ tanggal 27 September 2006 Tentang pembentukan desa Ramuk desa Mahaniwa dimana pada saat itu terbentuk dari beberapa perkampungan yakni kampung Bidi Hunggar, Tanarara, Anduhau, BAnukulu, Airara. Sejalan dengan mekarnya wilayah Kecamata Tabundung dan Kecamatan Pinupahar kemudia desa Ramuk dimekarkan menjadi dua desa yakni desa Ramuk dan desa Mahaniwa. Saat ini desa Mahaniwa terdiri dari 3 dusun yakni dusun Opang Madangu, Laidahar dan dusun Tana Kadita.

Sebagian besar penduduk desa Mahaniwa bermata pencaharian sebagai petani. Mata pencaharian yang lain adalah peternak, pedagang, industri kerajinan dan pegawai pemerintahan.

Potensi sumber mata air terdapat di beberapa lokasi yaitu Tanarara, Anduhau, Lai Muluk dan Wangga Palang.  Sedangkan sungai yang dijumpai di desa Mahaniwa adalah Wangga Palang dan Lai Muluk.

Objek wisata yang ada diwilayah desa Mahaniwa, tepatnya adalah di hutan Mahaniwa. Objek wisata tersebut berupa wisata pengamatan burung (birdwatching) Kakatua jambul jingga. Dikarenakan status hutan Mahaniwa termasuk dalam kawasan Taman Nasional Laiwangi Wanggameti, maka objek wisata pengamatan tersebut dikelola oleh Resort Tawui yang merupakan unit kerja Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Tabundung, Balai Taman Nasional Laiwangi Wangameti. 

Untuk mewujudkan pengelolaan Taman Nasional Laiwangi Wanggameti secara kolaboratif, maka masyarakat sekitar dlibatkan secara aktif dimana salah satu contohnya adalah sebagai pemandu lokal.

Salam Konservasi !


Baca Selengkapnya ►

Juni 27, 2013

Desa Wahang

Desa wahang adalah salah satu dari 5 desa lainnya (Tawui, Lailunggi, Wanggabewa, Ramuk dan Mahaniwa) dalam lingkup Kecamatan Pinupahar. Merupakan desa penyangga (buffer zone) Kawasan Taman Nasional Laiwangi Wanggameti dan terletak di pesisir pantai selatan Pulau Sumba pada ketinggian 22 mdpl. Jarak ibukota desa Wahang ke ibukota Kabupaten Sumba Timur (Waingapu) sejauh 130 km dan dapat ditempuh dengan kendaraan roda empat maupun roda dua.

Ibukota desa berada di Katoda Tairi. Luas desa 61,9 km² memiliki jumlah penduduk 1.447 jiwa  pada tahun 2011. Terdiri dari 3 dusun, 6 Rukun Warga (RW), 12 Rukun Tetangga (RT) dan 339 Rumah Tangga. Sedangkan sistem pemerintahan dipimpin oleh seorang kepala desa yang merupakan hasil dari pemilihan langsung oleh masyarakat desa Wahang.

Terdapat sebuah sungai besar yang melintasi desa yaitu Luku Hupu Hai Iyang. Namun sungai ini merupakan sungai musiman yang hanya mengalir pada musim penghujan.

Masyarakat desa Wahang sebagian besar bermata pencaharian sebagai Petani. Hasil produksi pertanian diantaranya adalah Padi sawah dengan luas panen 25 hektar kemampuan produksi 32 ton. Sedangkan padi ladang dengan luas panen 58 hektar kemampuan produksi 127 ton. Mata pencaharian lain masyarakat desa Wahang adalah sebagai Nelayan, peternak pedagang, industri kerajinan,  PNS/ABRI,  Pensiunan dan lainnya.

Dari segi keyakinan, sebagian besar masyarakat desa Wahang beragama Kristen Protestan sebanyak 1.403 orang dan sebagian kecil masih menganut aliran kepercayaan “Marapu” sebanyak 44 orang.

Potensi Objek Wisata yang ada di desa Wahang diantaranya sebagai berikut :
  1. Wisata bahari yaitu di Pantai Wahang  berjarak 130 km dari ibukota Kabupaten Sumba Timur (Waingapu). Pantai Wahang memiliki keindahan alam yang masih alami dan dapat menjadi salah satu tujuan untuk liburan di akhir pekan.
  2. Wisata ritual budaya yaitu Nyale dan Karake berjarak 135 km dari ibukota Kabupaten Sumba Timur. Ritual budaya Nyale dan Karake (Nyale : mencari cacing pantai pada upacara adat marapu; Karake : ritual adat untuk merayakan musim panen) dilakukan setiap tahun yaitu pada bulan Maret. Banyak wisatawan yang berkunjung baik dari dalam negeri maupun mancanegara.

Namun sayangnya potensi-potensi yang ada tersebut belum berkembang. Faktor utama sebagai penghambat adalah kurangnya promosi dan akses jalan menuju lokasi yang rusak

Salam Konservasi...!
Baca Selengkapnya ►
Flag Counter
 

Copyright © Resort Tawui TN MATALAWA Design by O Pregador | Blogger Theme by Blogger Template de luxo | Powered by Blogger